Sultra Siap Jadi Lumbung Pangan Timur Indonesia di Tengah Tantangan El Nino
Kendari- Sulawesi Tenggara kini diproyeksikan menjadi lumbung pangan utama di wilayah Indonesia Timur melalui transformasi kelembagaan yang adaptif menuju swasembada pangan berkelanjutan. Dalam kunjungan kerja Tenaga Ahli Menteri Pertanian dan Sesditjen Tanaman Pangan di Aula BBRMP Sultra, Kamis (2/4), ditekankan bahwa penguatan produksi lokal menjadi sangat krusial mengingat ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diprediksi mulai melanda pada April 2026. Untuk memitigasi dampak tersebut, pemerintah menginstruksikan langkah antisipasi dini melalui optimalisasi pompanisasi berdasarkan data klimatologi serta penggunaan varietas padi genjah seperti Cakrabuana dan Padjajaran yang lebih tahan terhadap keterbatasan air.
Strategi utama yang digencarkan adalah akselerasi Luas Tambah Tanam (LTT) untuk mengejar sisa target sekitar 20.000 hektare di wilayah Sulawesi Tenggara. Pemerintah mendorong percepatan penetapan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) sebelum April 2026 guna memastikan distribusi bantuan benih tepat waktu.. Meski menghadapi tantangan teknis seperti sinkronisasi data Luas Baku Sawah (LBS) dan kendala lahan kering, penguatan koordinasi antara penyuluh lapangan, dinas terkait, dan tokoh masyarakat diharapkan mampu menjadikan Sultra sebagai model nasional dalam pencapaian swasembada pangan serta penguatan ekspor beras dan jagung.